Puisi terakhir
Malam ini, aku melangitkan renung doa doa
Senandung paling palung dari air mata
Ketika bunga berbunga merah sewarna tanah
Lahirhadir di pusara relung raung mata air hati
Kepada darah nanah yang memerah luka
Karena tertujah tajam pisau puisi kata
Dalam diri, aku langitkan lagi renung doa doa
Senantiasa aku kaitkan kidung asa dan cinta
Agar dapat menenun mendung menjadi cahaya
Duh, Gusti...
Saat begini mengapa hujan bertandang
Karena ketika hujan, aku tak tau jalan pulang
Ning, sekarang aku tau dimana surga
Bukan hanya kaki ibu yang terbaca
Ada hati, rasa, jiwa, tawa, gembira, cinta, kasih, rindu, sendu, tangis, rintih, sedih, pedih, duka, lara, derita, nafas, cemas, ruh, darah, dan tubuhnya
Semua itu surga, kekasih
Semua itu bahagia, kekasih
Ini puisi terakhir
Karena aku kembali lahir
Rembang, 18 Oktober 2010
Wednesday, 20 October 2010
Tuesday, 19 October 2010
Bicara tanpa kata
Bicara tanpa kata
Bisu di tungku
Tak lain debu
Biru legam
Tak lain ungu lebam
Candu di senyum
Tak lain bunga sekuntum
Madu di serat serat hati
Tak lain sekat sekat diri
Cinta itu berhala
Bergula harum cendana
Berlagu doa dan mantera
Berluka jika tak bicara
Berduka andai tak terkata
Ketika nyata
Kian nyala
Luruh seluruhNya
Ning
Rembang,
17 Oktober 2010
Bisu di tungku
Tak lain debu
Biru legam
Tak lain ungu lebam
Candu di senyum
Tak lain bunga sekuntum
Madu di serat serat hati
Tak lain sekat sekat diri
Cinta itu berhala
Bergula harum cendana
Berlagu doa dan mantera
Berluka jika tak bicara
Berduka andai tak terkata
Ketika nyata
Kian nyala
Luruh seluruhNya
Ning
Rembang,
17 Oktober 2010
Monday, 18 October 2010
Senandung mendung, kidung berkerudung
Senandung mendung, kidung berkerudung
Senandung mendung gulung bergulung di langit
Di gunung gunung dan di bukit bukit
Menyanyikan menyajikan lagu cita cinta yang pucat pudar
Seperti luka gula duka derita perdu dan belukar
Aku ini batu
Beribu ragu
Aku ini debu
Semisal abu
Di tungku
Aku benci waktu
Senantiasa hantu
Kita tau
Keraguan itu busuk
Ketakutan itu terkutuk
Keheningan itu menusuk rusuk
Ning
Kidung ini berkerudung
Jangan kau kandung
Rembang,
17 Oktober 2010
Senandung mendung gulung bergulung di langit
Di gunung gunung dan di bukit bukit
Menyanyikan menyajikan lagu cita cinta yang pucat pudar
Seperti luka gula duka derita perdu dan belukar
Aku ini batu
Beribu ragu
Aku ini debu
Semisal abu
Di tungku
Aku benci waktu
Senantiasa hantu
Kita tau
Keraguan itu busuk
Ketakutan itu terkutuk
Keheningan itu menusuk rusuk
Ning
Kidung ini berkerudung
Jangan kau kandung
Rembang,
17 Oktober 2010
Kerinduan
Kerinduan
Kekasih
Kerinduan itu malam
Diam diam bergaram
Mengerak di cawan
Mengerang di hujan
Menggarang di mendung awan
Kerinduan ini buram
Kian diam
Kian lebam
Ya Tuhan
Ya Tuhan
Ning
Purwodadi,
14 Oktober 2010
Kekasih
Kerinduan itu malam
Diam diam bergaram
Mengerak di cawan
Mengerang di hujan
Menggarang di mendung awan
Kerinduan ini buram
Kian diam
Kian lebam
Ya Tuhan
Ya Tuhan
Ning
Purwodadi,
14 Oktober 2010
Sunday, 17 October 2010
Hening
Hening
Apa yang aku tau tentang kehidupan?..
Ketika
Betapa tanya mendera dada
Betapa mengapa menjawab tak berkata
Ketika
Betapa nafas menyerupa kapas
Betapa angin menderu ingin
Dan
Betapa bebas, lepas mengukir kertas
. . . . .
Ada gemulai kau di mataku
Ada geliat kau di hatiku
Nona, apakah kau tau dimana surga?
Ya. Tuhan..
Senandung ini tak dapat ku bendung
Walau aku hening
Ning
Purwodadi,
13 Oktober 2010
Apa yang aku tau tentang kehidupan?..
Ketika
Betapa tanya mendera dada
Betapa mengapa menjawab tak berkata
Ketika
Betapa nafas menyerupa kapas
Betapa angin menderu ingin
Dan
Betapa bebas, lepas mengukir kertas
. . . . .
Ada gemulai kau di mataku
Ada geliat kau di hatiku
Nona, apakah kau tau dimana surga?
Ya. Tuhan..
Senandung ini tak dapat ku bendung
Walau aku hening
Ning
Purwodadi,
13 Oktober 2010
Angin
Angin
Kadang sejuk yang di reguk
Kadang gigil yang dingin
Dan mungkin menjadi makin yang ingin
Malam ini bagai demam
Tegukanya manis redam dendam
Sayup sayup sayap sayap kalam
Merendam langit yang tak pernah padam
Kekasih, Tuhan tak diam
Purwodadi,
12 Oktober 2010
Kadang sejuk yang di reguk
Kadang gigil yang dingin
Dan mungkin menjadi makin yang ingin
Malam ini bagai demam
Tegukanya manis redam dendam
Sayup sayup sayap sayap kalam
Merendam langit yang tak pernah padam
Kekasih, Tuhan tak diam
Purwodadi,
12 Oktober 2010
Friday, 15 October 2010
Sore ini begitu anna
Sore ini begitu anna
'Sore..'
Ku sapa
Nadanada pun birama
Telah..membelah
Bahkan pun sudah
Cerita yg lama tak ku buka..entah
Sore ini begitu anna
Mengelana jiwa
Rasarasa pun jelma
Ruh ku terbang menyingkap pada tiapsetiap
Sudutsudut pengap
Aku tergagap
Selain mungkin harap
Saat kata yg tak sempat pun senyap
Dengarlah!
: sesungguhnya aku ada pada sore ini yg begitu anna..
Memang aku
Rindu biru
Kamu itu
Yg dahulu..
Pada nama yg begitu anna
.......
Suatu kala
Kita temu jua
Rembang, 7 3 10
'Sore..'
Ku sapa
Nadanada pun birama
Telah..membelah
Bahkan pun sudah
Cerita yg lama tak ku buka..entah
Sore ini begitu anna
Mengelana jiwa
Rasarasa pun jelma
Ruh ku terbang menyingkap pada tiapsetiap
Sudutsudut pengap
Aku tergagap
Selain mungkin harap
Saat kata yg tak sempat pun senyap
Dengarlah!
: sesungguhnya aku ada pada sore ini yg begitu anna..
Memang aku
Rindu biru
Kamu itu
Yg dahulu..
Pada nama yg begitu anna
.......
Suatu kala
Kita temu jua
Rembang, 7 3 10
Subscribe to:
Posts (Atom)







