Showing posts with label Kupu Kupu. Show all posts
Showing posts with label Kupu Kupu. Show all posts

Sunday, 9 January 2011

Penjual malam

Penjual malam



Entah berapa cinta telah kau padam
Sedang engkau lengkung gendam
Senyum remang gelap malam
Terpendam di sudut susut jalan
Ada dendam mengembang
Kisah anak zaman yang karam

. . . .

Sri, bunga lahir dari bulir padi
Mekar harum dan wangi
Menganyam hati menbuai mimpi
Hati lelaki
Mimpi membuat matahari
Pagi

Ketika hati berternak birahi
Ada cinta berona noda asmara
Bergelora dalam api jiwa
Bakar batas yang memang kertas
Tipis, miris lalu akhinya tangis

Luka apa yang senantiasa nafsu
Duka apa yang senantiasa lugu
Semakin kelabu
Semakin berdebu
Layu dan lelayu

Sri, lelakimu  batu
Mencipta ruang waktu

Sri, lelakimu sayap
Terbang dan lenyap

. . . .

Entah berapa cinta telah kau padam
Engkau masih lengkung gendam
Mendendam pada zaman

Sri, jangan karam
Ada cinta yang semayam

Lahirkan!
Lahirkan!

Sayang..



A. Sasmita
Purwodadi,
30 desember 2010

Sunday, 26 September 2010

Menyulam waktu

Menyulam waktu


Ibu biasa menyulam waktu
Bertahun lalu
Ujung jalan berdebu berliku
Saksi kelu tiap laku
Berharap jadi kelambu

Antara rumah patok nisan
Takluk tertunduk dengan segan
Tiap jejak bercerita angan
Tertinggal ditetak langkah sandal kumal
Laju kakinya tersengal
Dihelanya keujung jalan
Berdebu
Berliku
Berharap jadi kelambu

Ibu
Bersetia dengan debu
Bermesra dengan liku
Di ujung jalan menunggu
Datang mu
Genggam rindu

Ibu telah menyulam waktu
Sekarang jadi kelambu
Untuk mu
Dunia mu

Tak akan layu!



Rembang,
20 Juni 2010

Menanam malam, berbunga mimpi

Menanam malam, berbunga mimpi



Menanam malam
Di matahari yang lambat terbenam
Kisah bulan mendadak buram
Cahayanya larut terpendam padam

Bukan harus menggarami awan
Agar kelana rasa sanggup tertelan

Ini senja bercerita jingga
Hadir dan ada ditengah iga



Untuk malam berbunga mimpi

Aku disini!



Purwodadi,
24 Juni 2010

Saturday, 25 September 2010

Senyum

Senyum


Apa mula sore ini mengembara
Sayap sayap bibir sang dara
Menangkup dada saat bergerak manja
Siapa sanggup bilang tak jelita

Duduk takluk mata terpana
Hati kikuk jiwa terpenjara
Nyali apa bilang tak juwita


: Nyaris gila!

. . . . .

tia



Purwodadi,
25 Juni 2010

Friday, 24 September 2010

Pelangi

Pelangi


Langit ini hitam
Tercelup mendung awan
Cahaya tertawan diam
: Dan hujan

Sereda hujan hadir pelangi
Kenapa tak kali ini?


Masih kau simpan disana?

Pelangi dan cahaya


Di sela rambut aduhai mu betapa


Tia


Purwodadi,
02 Juli 2010

Bercak waktu memutar rindu

Bercak waktu memutar rindu


Ialah bercak waktu
Lama pernah semat di ujung dada ku
Sewarna emas
Kadang jadi cemas
Kala malam pergi berkemas
Dan pagi datang bergegas

Ialah bercak waktu
Kini memutar rindu
Di ujung dada ku
Yang kini membiru

Rasanya
Aduhai betapa

: Linu!



Kudus,
03 Juli 2010

Thursday, 2 September 2010

Menyeduh rindu


Menyeduh rindu


Siapa menyeduh rindu
Di tungku dari batu
Berbahan bakar kayu
Kemarin
Diambil dari hutan mungkin

Seduhan air mata rindu
Bertanya bertahta pada pilu
Siapa perah dari ulu

Apa salah belajar dari batu
Keras ikat berharap lapuknya waktu

Tuhan mengerti
Dimana mengail mimpi
Dari nyeri yang berkelahi

Ini rindu
: Kini candu



Rembang,
21 Juni 2010

Monday, 30 August 2010

Jejak nafsu perempuan kupukupu

Jejak nafsu perempuan kupukupu

Pernah di bilangan waktu
Ku sapa kau
Sendiri berdiri kelu
Aroma parfume dan kemilau gincu

"Ayo! Kita makan dulu?"
Setelah itu terserah aku

Aku mau lihat matamu
Kau beri aku pupu
Aku mau lihat senyum
Kau beri aku payudara ranum
Aku tanya nama
Kau jawab lama dan biaya

"ah.."


Purwodadi,
16 Agustus 2010