Penjual malam
Entah berapa cinta telah kau padam
Sedang engkau lengkung gendam
Senyum remang gelap malam
Terpendam di sudut susut jalan
Ada dendam mengembang
Kisah anak zaman yang karam
. . . .
Sri, bunga lahir dari bulir padi
Mekar harum dan wangi
Menganyam hati menbuai mimpi
Hati lelaki
Mimpi membuat matahari
Pagi
Ketika hati berternak birahi
Ada cinta berona noda asmara
Bergelora dalam api jiwa
Bakar batas yang memang kertas
Tipis, miris lalu akhinya tangis
Luka apa yang senantiasa nafsu
Duka apa yang senantiasa lugu
Semakin kelabu
Semakin berdebu
Layu dan lelayu
Sri, lelakimu batu
Mencipta ruang waktu
Sri, lelakimu sayap
Terbang dan lenyap
. . . .
Entah berapa cinta telah kau padam
Engkau masih lengkung gendam
Mendendam pada zaman
Sri, jangan karam
Ada cinta yang semayam
Lahirkan!
Lahirkan!
Sayang..
A. Sasmita
Purwodadi,
30 desember 2010
Showing posts with label Kupu Kupu. Show all posts
Showing posts with label Kupu Kupu. Show all posts
Sunday, 9 January 2011
Sunday, 26 September 2010
Menyulam waktu
Menyulam waktu
Ibu biasa menyulam waktu
Bertahun lalu
Ujung jalan berdebu berliku
Saksi kelu tiap laku
Berharap jadi kelambu
Antara rumah patok nisan
Takluk tertunduk dengan segan
Tiap jejak bercerita angan
Tertinggal ditetak langkah sandal kumal
Laju kakinya tersengal
Dihelanya keujung jalan
Berdebu
Berliku
Berharap jadi kelambu
Ibu
Bersetia dengan debu
Bermesra dengan liku
Di ujung jalan menunggu
Datang mu
Genggam rindu
Ibu telah menyulam waktu
Sekarang jadi kelambu
Untuk mu
Dunia mu
Tak akan layu!
Rembang,
20 Juni 2010
Ibu biasa menyulam waktu
Bertahun lalu
Ujung jalan berdebu berliku
Saksi kelu tiap laku
Berharap jadi kelambu
Antara rumah patok nisan
Takluk tertunduk dengan segan
Tiap jejak bercerita angan
Tertinggal ditetak langkah sandal kumal
Laju kakinya tersengal
Dihelanya keujung jalan
Berdebu
Berliku
Berharap jadi kelambu
Ibu
Bersetia dengan debu
Bermesra dengan liku
Di ujung jalan menunggu
Datang mu
Genggam rindu
Ibu telah menyulam waktu
Sekarang jadi kelambu
Untuk mu
Dunia mu
Tak akan layu!
Rembang,
20 Juni 2010
Menanam malam, berbunga mimpi
Menanam malam, berbunga mimpi
Menanam malam
Di matahari yang lambat terbenam
Kisah bulan mendadak buram
Cahayanya larut terpendam padam
Bukan harus menggarami awan
Agar kelana rasa sanggup tertelan
Ini senja bercerita jingga
Hadir dan ada ditengah iga
Untuk malam berbunga mimpi
Aku disini!
Purwodadi,
24 Juni 2010
Menanam malam
Di matahari yang lambat terbenam
Kisah bulan mendadak buram
Cahayanya larut terpendam padam
Bukan harus menggarami awan
Agar kelana rasa sanggup tertelan
Ini senja bercerita jingga
Hadir dan ada ditengah iga
Untuk malam berbunga mimpi
Aku disini!
Purwodadi,
24 Juni 2010
Saturday, 25 September 2010
Senyum
Senyum
Apa mula sore ini mengembara
Sayap sayap bibir sang dara
Menangkup dada saat bergerak manja
Siapa sanggup bilang tak jelita
Duduk takluk mata terpana
Hati kikuk jiwa terpenjara
Nyali apa bilang tak juwita
: Nyaris gila!
. . . . .
tia
Purwodadi,
25 Juni 2010
Apa mula sore ini mengembara
Sayap sayap bibir sang dara
Menangkup dada saat bergerak manja
Siapa sanggup bilang tak jelita
Duduk takluk mata terpana
Hati kikuk jiwa terpenjara
Nyali apa bilang tak juwita
: Nyaris gila!
. . . . .
tia
Purwodadi,
25 Juni 2010
Friday, 24 September 2010
Pelangi
Pelangi
Langit ini hitam
Tercelup mendung awan
Cahaya tertawan diam
: Dan hujan
Sereda hujan hadir pelangi
Kenapa tak kali ini?
Masih kau simpan disana?
Pelangi dan cahaya
Di sela rambut aduhai mu betapa
Tia
Purwodadi,
02 Juli 2010
Langit ini hitam
Tercelup mendung awan
Cahaya tertawan diam
: Dan hujan
Sereda hujan hadir pelangi
Kenapa tak kali ini?
Masih kau simpan disana?
Pelangi dan cahaya
Di sela rambut aduhai mu betapa
Tia
Purwodadi,
02 Juli 2010
Bercak waktu memutar rindu
Bercak waktu memutar rindu
Ialah bercak waktu
Lama pernah semat di ujung dada ku
Sewarna emas
Kadang jadi cemas
Kala malam pergi berkemas
Dan pagi datang bergegas
Ialah bercak waktu
Kini memutar rindu
Di ujung dada ku
Yang kini membiru
Rasanya
Aduhai betapa
: Linu!
Kudus,
03 Juli 2010
Ialah bercak waktu
Lama pernah semat di ujung dada ku
Sewarna emas
Kadang jadi cemas
Kala malam pergi berkemas
Dan pagi datang bergegas
Ialah bercak waktu
Kini memutar rindu
Di ujung dada ku
Yang kini membiru
Rasanya
Aduhai betapa
: Linu!
Kudus,
03 Juli 2010
Thursday, 2 September 2010
Menyeduh rindu
Menyeduh rindu
Siapa menyeduh rindu
Di tungku dari batu
Berbahan bakar kayu
Kemarin
Diambil dari hutan mungkin
Seduhan air mata rindu
Bertanya bertahta pada pilu
Siapa perah dari ulu
Apa salah belajar dari batu
Keras ikat berharap lapuknya waktu
Tuhan mengerti
Dimana mengail mimpi
Dari nyeri yang berkelahi
Ini rindu
: Kini candu
Rembang,
21 Juni 2010
Siapa menyeduh rindu
Di tungku dari batu
Berbahan bakar kayu
Kemarin
Diambil dari hutan mungkin
Seduhan air mata rindu
Bertanya bertahta pada pilu
Siapa perah dari ulu
Apa salah belajar dari batu
Keras ikat berharap lapuknya waktu
Tuhan mengerti
Dimana mengail mimpi
Dari nyeri yang berkelahi
Ini rindu
: Kini candu
Rembang,
21 Juni 2010
Monday, 30 August 2010
Jejak nafsu perempuan kupukupu
Jejak nafsu perempuan kupukupu
Pernah di bilangan waktu
Ku sapa kau
Sendiri berdiri kelu
Aroma parfume dan kemilau gincu
"Ayo! Kita makan dulu?"
Setelah itu terserah aku
Aku mau lihat matamu
Kau beri aku pupu
Aku mau lihat senyum
Kau beri aku payudara ranum
Aku tanya nama
Kau jawab lama dan biaya
"ah.."
Purwodadi,
16 Agustus 2010
Pernah di bilangan waktu
Ku sapa kau
Sendiri berdiri kelu
Aroma parfume dan kemilau gincu
"Ayo! Kita makan dulu?"
Setelah itu terserah aku
Aku mau lihat matamu
Kau beri aku pupu
Aku mau lihat senyum
Kau beri aku payudara ranum
Aku tanya nama
Kau jawab lama dan biaya
"ah.."
Purwodadi,
16 Agustus 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)







