Mendongeng madu
"Nak, telah larut. Tidurlah!.."
"Tidak Bu, sebelum kau dongengkan madu.."
"Nak, bukankah malam kemarin sudah!.."
"Aku ingin tiap malam, Bu.."
"Apa kau tak bosan, Nak?.."
"Tidak, Bu. Karena aku mencintainya.."
"Baiklah. Rebahkan kepalamu dipangkuanku!.."
Detak jarum jam
Rayapi malam
Lebih dalam
Lebih dalam
"Suatu hari Madu.."
Bla.. Bla..
Blai.. Blai..
Bla.. Bla..
Blai.. Blai..
Selalu tertidur
Ketika air matanya rembes di pipiku
"Ibu, madu terlalu asin.."
Rembang,
01 November 2010
Saturday, 6 November 2010
Friday, 5 November 2010
Aku lapar (dua)
Aku lapar (dua)
"Nak, telah matang. Kapan kau makan?.."
"Sekarang, Bu.."
"Tapi masih panas, Nak!.."
"Tak apa, Bu.."
"Baik. Kuhidangkan, kudinginkan untuk mu, Nak!.."
"Terima kasih. Aku mencintaimu, Bu.."
"Makanlah. Setelahnya kau tidur, Nak!.."
"Iya, Bu.."
Masih jangkrik jangkrik
Ceritakan rembulan
Masih bintang bintang
Celotehkan angan
Dan malam
"Bu, dongengkan aku madu!.."
Rembang,
31 Oktober 2010
"Nak, telah matang. Kapan kau makan?.."
"Sekarang, Bu.."
"Tapi masih panas, Nak!.."
"Tak apa, Bu.."
"Baik. Kuhidangkan, kudinginkan untuk mu, Nak!.."
"Terima kasih. Aku mencintaimu, Bu.."
"Makanlah. Setelahnya kau tidur, Nak!.."
"Iya, Bu.."
Masih jangkrik jangkrik
Ceritakan rembulan
Masih bintang bintang
Celotehkan angan
Dan malam
"Bu, dongengkan aku madu!.."
Rembang,
31 Oktober 2010
Aku lapar (satu)
Aku lapar (satu)
Dan mendadak lalu
Ketika ibu menanak kelu
"Malam ini kau harus tidur, Nak!.."
"Tapi aku lapar, Bu.."
"Sabar, Nak. Sebentar lagi matang. Dan kita makan pilu!.."
"Ku tunggu, Bu.."
Dan jangkrik jangkrik
Bercerita tentang rembulan
Menikmati malam
Untung sedang tak berhujan
Dan bintang bintang
Berceloteh tentang angan
Selalu banyak jalan
Tapi satu jalan pulang
Rembang,
31 Oktober 2010
Dan mendadak lalu
Ketika ibu menanak kelu
"Malam ini kau harus tidur, Nak!.."
"Tapi aku lapar, Bu.."
"Sabar, Nak. Sebentar lagi matang. Dan kita makan pilu!.."
"Ku tunggu, Bu.."
Dan jangkrik jangkrik
Bercerita tentang rembulan
Menikmati malam
Untung sedang tak berhujan
Dan bintang bintang
Berceloteh tentang angan
Selalu banyak jalan
Tapi satu jalan pulang
Rembang,
31 Oktober 2010
Thursday, 4 November 2010
Seperti hati
Seperti hati
Seperti perpisahan
Senantiasa berharap pertemuan
Seperti pergi
Senantiasa berharap kembali
Seperti gunung gunung
Senantiasa mengandung gaung
Seperti bukit bukit
Senantiasa memendam jerit
Seperti mercusuar
Penanda tiap berlayar
Inikah?..
Lalu hening,
Dan daun daun menguning
Pun bunga bunga kering
Angin mendadak menanak dingin
Dan ketika subuh,
Tubuh lumpuh rubuh bersimpuh
Lahirkan debar samar yang berkobar
Seperti hati
Tiap kata adalah nyanyi
Semi di puisi
Purwodadi,
28 Oktober 2010
Seperti perpisahan
Senantiasa berharap pertemuan
Seperti pergi
Senantiasa berharap kembali
Seperti gunung gunung
Senantiasa mengandung gaung
Seperti bukit bukit
Senantiasa memendam jerit
Seperti mercusuar
Penanda tiap berlayar
Inikah?..
Lalu hening,
Dan daun daun menguning
Pun bunga bunga kering
Angin mendadak menanak dingin
Dan ketika subuh,
Tubuh lumpuh rubuh bersimpuh
Lahirkan debar samar yang berkobar
Seperti hati
Tiap kata adalah nyanyi
Semi di puisi
Purwodadi,
28 Oktober 2010
Topeng kita
Topeng kita
Dan topeng topeng itu berkaca
Di wajah memar luka
Duka senantiasa derita
Lara tiba tiba apa hanya karena
Jiwa jiwa merongga binasa
Jiwa jiwa meregang nyawa
Dan mereka selalu senantiasa kita
Mentawai, tsunami
Merapi berpijar lagi
Tuhan, ini kami
Topeng topeng kertas
Topeng topeng keras
Topeng topeng kapas
Topeng topeng culas
Topeng topeng tak berbelas
Topeng itu
Topeng ini
Topeng sana
Topeng sini
Ya, Tuhan..
Ampuni kami
Terima saudara kami
Pray for Indonesia
Purwodadi,
27 Oktober 2010
Dan topeng topeng itu berkaca
Di wajah memar luka
Duka senantiasa derita
Lara tiba tiba apa hanya karena
Jiwa jiwa merongga binasa
Jiwa jiwa meregang nyawa
Dan mereka selalu senantiasa kita
Mentawai, tsunami
Merapi berpijar lagi
Tuhan, ini kami
Topeng topeng kertas
Topeng topeng keras
Topeng topeng kapas
Topeng topeng culas
Topeng topeng tak berbelas
Topeng itu
Topeng ini
Topeng sana
Topeng sini
Ya, Tuhan..
Ampuni kami
Terima saudara kami
Pray for Indonesia
Purwodadi,
27 Oktober 2010
Wednesday, 3 November 2010
Sendiri
Sendiri
Senantiasa mengenapi sepi
Mengeluti mimpi menanyakan hati
Jalan pulang mendadak sunyi
Ah, bayangan itu lagi..
Sebaiknya aku menepi
Kembali asah belati
Lalu galau dan kemarau
Meranjau
Purwodadi, 26 oktober 2010
Senantiasa mengenapi sepi
Mengeluti mimpi menanyakan hati
Jalan pulang mendadak sunyi
Ah, bayangan itu lagi..
Sebaiknya aku menepi
Kembali asah belati
Lalu galau dan kemarau
Meranjau
Purwodadi, 26 oktober 2010
Tersiksa
Tersiksa
: Ning
Tersiksa
Benar benar tersiksa
Aku mencoba menidurkan malam dalam pangkuan mu
Malam yang betapa sungguh sangat kelam
Dan mendadak senyum rembulan lebam
Tergerus mendung awan
Kau tau, kekasih?
Rindu itu sungguh madu
Madu itu sungguh candu
Candu itu perahu
Berlayar di tiap debar dan getar
Hati, ah selalu hati
Malam ini
Hitam kini
Legam di sini
Diam diam berdentam
Purwodadi, 22 Oktober 2010
: Ning
Tersiksa
Benar benar tersiksa
Aku mencoba menidurkan malam dalam pangkuan mu
Malam yang betapa sungguh sangat kelam
Dan mendadak senyum rembulan lebam
Tergerus mendung awan
Kau tau, kekasih?
Rindu itu sungguh madu
Madu itu sungguh candu
Candu itu perahu
Berlayar di tiap debar dan getar
Hati, ah selalu hati
Malam ini
Hitam kini
Legam di sini
Diam diam berdentam
Purwodadi, 22 Oktober 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)








