Wednesday, 15 December 2010

Aku, siapa?

Aku, siapa?

Aku dilahirkan dari cinta yang dendam
Di tiap malam demam

Aku dilahirkan dari mimpi yang karam
Di tiap malam adalah karang

Aku dilahirkan dari doa yang iba
Di tiap malam mantera, menyan dan dupa

Aku dilahirkan dari pusara air mata
Di tiap malam beribu tabur duka

Aku dilahirkan dari jejak jalan dan roda
Di tiap malam ada harap mengangkasa

Aku dilahirkan dari rahim tanya
Di tiap malam ada nganga, siapa?



A. Sasmita
Purwodadi,
03 Desember 2010

Wednesday, 8 December 2010

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?


Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Malam ini
Langit itu benar benar runtuh
Dalam simpuh sujud yang paling lumpuh
Salahkah aku ingin membunuh?

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Aku lelaki mendung mengandung kidung duka
Dan setelah malam yang meruntuhkan langit itu, kau tau?
Aku tak akan tidur selamanya

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Seluruhnya aku nikmati sampai mati
Aku kandung dalam renung mendung
Aku catat cacat dalam urat dan riwayat
Aku langitkan dalam doa paling air mata
Aku lelaki yang berlari dalam puisi
Menghirup hidup dalam ilusi diri

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Langkahku langkah pecah
Membercak darah
Sampai waktu yang tak aku tau
Bayangan itu menjelma masa lalu

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Beribu musim bunga bayangan itu memburuku
Sekarang dalam terang menjelma hantu
Tanpa ragu pangkas sangga sangga langitku
Kalbuku hitam memendam geram
Yang awal mula dari mana entah
Aku meradang membaca cuaca
Apa itu adalah lemparan mata mata dadu semata?

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Ya, Tuhan. Ya, Tuhan..
Malam macam apakah ini?
Menolak pejam
Mata mata dadu itu makin memar
Tertimpa detak retak jarum jam
Berputar berpusat di altar gemetar
Ada gentar yang bundar

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Dan tawa riang sang bandar
Bandar adalah tuan di permainan
Berhati hutan
Menyesatkan tiap pejalan
Malam ini aku tak sanggup pejam

Tuhan, digaris tangan itu, adakah jalan?‎

Aku asah dendam
Esok akan tajam
Esok kau, ku tikam
Ingin aku lihat matamu terbenam

Tuhan, di garis tangan itu, adakah jalan?

Tuhan, malam ini
Aku ingin bicara
: berdua

A. Sasmita

Purwodadi,
02 – 03 Desember 2010

Tuesday, 7 December 2010

Monday, 6 December 2010

Sekar

Sekar

Belum lagi kering janur yang menguning itu dan bebunga melati masih setia berdansa di aduhai rambutmu betapa. Dan di malam yang laik pualam itu, di mana kita menaiki mimpi di pembaringan bintang dan bulan bercengkerama layak anak kecil di awang awan. Adalah cinta. Ya, cinta di malam itu adalah cinta yang istimewa antara kau dan aku, aku dan kau, dan akhirnya menjadi kita. Dan benar bahwa dunia hanya kita yang punya bahkan pun surga. Selain kita tak.

Tetapi entah kenapa tiba tiba di subuh yang melenguh ini kau menyepuh telingaku dengan peluh dari air matamu. Hay, ada apa kekasih? Sungguh. Hay, karena apa kekasih? Aku tak benar benar paham. Lalu kau pun mendadak menyebut nama dan bertanya awal mula dari mana?

"Sekar? Siapa Sekar, mas?.."
"Sekar?!..Siapa pula Perempuan itu?.." Kataku melongo.
"Sudahlah, mas. Tak usah kau bohong!.."
"Aku katakan kepadamu, hay nona manis isteriku. Aku tak mengerti. Benar benar tak mengerti.." Rayuku.

Sedetikdua dia diam dan aku yakin dia makin hanyut di lautan tangis yang mendadak mengiris subuh yang memang telah gerimis dari tengah malam tadi. Ah, matanya menikamku bagai belati. Matanya juga nyala api membakar keras kertas hatiku.

Dalam sesak serak tangis yang miris, "Siapa dia, mas? Siapa dia, Wahyu Sumijo, suamiku?.."
Aku hanya bungkam.

Belum pernah selama ini dia memangilku dengan menyebut namaku lengkap. Tetapi di subuh gerimis ini dirinya bagai badai. Ya, badai yang siap menerjang sesiapa dan apa pun yang menghalang. Aku jangan harap selamat kalau tak benar benar dia cintai.

Aku pandang tepat di matanya. Dan matanya tepat melepaskan anak panah ke arah dadaku. Dan tepat! Sesak semakin meriak di sana. Sesak yang mungkin sama juga di dadanya.

Di subuh gerimis ini suasana semakin asing. Tubuhku pelan pelan mengecil dari pandangan matanya. Perlahan malah hilang dan makin berkubang dalam lubang ketidakpercayaan.

"Sebenarnya aku sudah tau lama, mas! Cuma aku hanya ingin mendengar sendiri dari laki laki yang telah menikahiku ini, tapi sayang sampai di saat sebelum ijab pun kau tak pernah mengatakan padaku, dan kau tau kenapa aku tetap melaksanakan ijab itu? Ya! Karena aku sangat mencintaimu mas. Tapi maaf mas, pagi ini hatiku tak kuat lagi memendamnya, maka aku tanyakan kepadamu, tapi kau masih saja diam.."

Kata katanya bagai aliran listrik dengan voltase maksimal yang menyengatku. Aku limbung di timpa reruntuhan langit serta bumi yang ku pijak tiba tiba terbelah dan siap menelanku bulat bulat. Juga sendi sendi dan urat urat ku terlepas dan kulit wajahku terkupas habis. Hatiku lumpuh jatuh bersimpuh.

Tiba tiba melesat bayangan Sekar Ningrum, kekasih sejatiku yang rencananya akan aku nikahi sebulan lagi tentunya setelah aku ceraikan isteriku. Ya, aku ceraikan isteriku! Walaupun pernikahan kami baru berusia semingu. Terserah angapan semua orang macam bagaimana terhadapku, tapi inilah kenyataannya.

Sayup sayup terdengar suara adzan subuh dari surau di ujung desa.

Di ketika kami sama sama diam dan dendam ini makin demam.

Purwodadi,
01 Desember 2010

Sunday, 5 December 2010

Maaf

Maaf

Seperti pengap
Mendadak meyeruak
Di serak sesak rongga dada

Malam ini
Langit itu benar benar runtuh
Dalam simpuh sujud yang paling lumpuh
Salahkah aku ingin membunuh

Kau, aku maafkan...

Purwodadi,
02 Desember 2010

A. Sasmita

Saturday, 4 December 2010

Cintaku, cintamu

Cintaku, cintamu

Cintaku hanya tanya
Cintamu bukan hanya karena

Cintaku berapi nyata
Cintamu mentari nyala

Cintaku purba
Cintamu purna

Cintaku jompa jampi mantera
Cintamu untai rinai doa

Cintaku bergula cendana
Cintamu berlagu rerimbun cemara

Cintaku baris baris berhala
Cintamu satu yang Esa

Cintaku
Cintamu

Aku
Kamu

Kamu
Aku

Aku
Kamu

Kamu
Aku

Aku
Aku

Kamu
Kamu

Dia,
Siapa?


Purwodadi,
30 November 2010

Friday, 3 December 2010

Bukalah

Bukalah
 
Rinduku kelabu
Mengasapi kalbu

Di daun itu
Berpintu

Buka, bukalah
Kekasih



Pati,
29 November 2010