Sajak angka
Satu, Tuhanku
Dua, Tuhanku dan aku
Tiga, Tuhanku, aku dan kau
Empat, Tuhanku, aku, kau dan Tuhanmu
Lima, sudahlah! Masa aku tulis Pancasila?
A. Sasmita
Rembang,
26 Desember 2010
Friday, 7 January 2011
Thursday, 6 January 2011
Kau
Kau
Kau si hitam penunggu cawan
Berdentam aroma rawan
Malam ini di terang bulan
Langit berdansa salsa dengan awan
Aku hirup asapasap sesat
Nadiku pucat tercekat
Riwayat apa yang lewat
Aku sekarat
Kau masih saja nikmat
Tanpa sebab membebat
Ayat kemana ayat?
A. Sasmita
Rembang,
24 Desember 2010
Kau si hitam penunggu cawan
Berdentam aroma rawan
Malam ini di terang bulan
Langit berdansa salsa dengan awan
Aku hirup asapasap sesat
Nadiku pucat tercekat
Riwayat apa yang lewat
Aku sekarat
Kau masih saja nikmat
Tanpa sebab membebat
Ayat kemana ayat?
A. Sasmita
Rembang,
24 Desember 2010
Wednesday, 5 January 2011
Laut
Laut
Menyeberangi lautan malam
Ia yang telanjang
Adakah itu untai mimpi
Jumpa datar daratan
Tak ada gemintang utara
Tak ada kelip nyala suar
Aku gemetar tak gentar terkapar
Akulah nahkoda tanpa kapal
Tanpa kompas tanpa layar
Tak berjangkar
Mungkinkah aku arungimu
Jika semua bagimu tak di aku
Aku terpikat pekat
Erat terikat
Lautmu yang maut
A. Sasmita
Purwodadi,
24 Desember 2010
Menyeberangi lautan malam
Ia yang telanjang
Adakah itu untai mimpi
Jumpa datar daratan
Tak ada gemintang utara
Tak ada kelip nyala suar
Aku gemetar tak gentar terkapar
Akulah nahkoda tanpa kapal
Tanpa kompas tanpa layar
Tak berjangkar
Mungkinkah aku arungimu
Jika semua bagimu tak di aku
Aku terpikat pekat
Erat terikat
Lautmu yang maut
A. Sasmita
Purwodadi,
24 Desember 2010
Tuesday, 4 January 2011
Petik putik kupetik
Petik putik kupetik
Apa tanda tanda itu
Macam nada nada
Senar senar gitar terpetik
Di jari jarimu lentik
Ada aura suara
Bergetar di dada
Dinding bermelodi
Inikah nyanyi sebuah hati
Tumbuh dan berbunga
Cantik, elok mempesona
Harum, ranum tersenyum
Dalam semakin dalam
Lalu ketika matahari siang membakar
Aku menjelma perdu dan belukar
Putikmu menjelma sayap
Aku serbuksari, ingin kau kudekap
Dan garis garis tangan itu
Menuju arah sebuah pintu
Bolehkah aku ketuk, aku buka
Kupetik kau cinta
A. Sasmita
Purwodadi,
24 Desember 2010
Apa tanda tanda itu
Macam nada nada
Senar senar gitar terpetik
Di jari jarimu lentik
Ada aura suara
Bergetar di dada
Dinding bermelodi
Inikah nyanyi sebuah hati
Tumbuh dan berbunga
Cantik, elok mempesona
Harum, ranum tersenyum
Dalam semakin dalam
Lalu ketika matahari siang membakar
Aku menjelma perdu dan belukar
Putikmu menjelma sayap
Aku serbuksari, ingin kau kudekap
Dan garis garis tangan itu
Menuju arah sebuah pintu
Bolehkah aku ketuk, aku buka
Kupetik kau cinta
A. Sasmita
Purwodadi,
24 Desember 2010
Monday, 3 January 2011
Hening
Hening
Tersenyumlah engkau Hening
Duka tak sertamerta menjadi akhir cerita
Penutup malam malam dengan mimpi meroda air mata
Hening, apa karena hari hari di bulan ini senantiasa berhujan
Lalu rinainya bertanya kemana arah akhir tujuan?
Dan berharap bukan hanya karena tangan tangan Tuhan
Hening, bukankah hujan itu tanda tanda kehidupan
Awal baru para pejalan
Serupa kau dan aku
He'ning, berjalanlah denganku
Susuri kisah kisahku yang dungu
A. Sasmita
Purwodadi,
23 Desember 2010
Sunday, 2 January 2011
Di menjelang magrib
Di menjelang magrib
Di menjelang magrib
Sayup sayap adzan
Mengepak di cakrawala
Senja berhujan untai doa
Di air yang sujud basah di pori
Kulitku
Kulitmu
Tak lagi api
A. Sasmita
Purwodadi,
22 Desember 2010
Di menjelang magrib
Sayup sayap adzan
Mengepak di cakrawala
Senja berhujan untai doa
Di air yang sujud basah di pori
Kulitku
Kulitmu
Tak lagi api
A. Sasmita
Purwodadi,
22 Desember 2010
Saturday, 1 January 2011
Bertanya: hilang, kujawab: hilang?
Bertanya: hilang, kujawab: hilang?
Hilang
Siapa
Di mana
Apa
Bagaimana
Hilang?
Dia?
Di sana?
Cinta?
O, bisa ya?
A. Sasmita
Purwodadi,
22 Desember 2010
Hilang
Siapa
Di mana
Apa
Bagaimana
Hilang?
Dia?
Di sana?
Cinta?
O, bisa ya?
A. Sasmita
Purwodadi,
22 Desember 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)





