Ibu
Nak ambilkan air mata
Tadi jatuh dikaki meja
Ya. Didekat jendela
Nak bawa kemari
Hangat dan matangkan lagi
Ya. Terseduh ribuan matahari
Nak telah didih
Kapan tertagih
Purwodadi,
17 Juli 2010
Thursday, 2 September 2010
Datang
Datang
Benarkah hari ini kau akan datang, kekasih?
Atau mungkin kau sengaja membuat aku menunggu di rindu yang semakin mewabah dan menjadikan udara dalam radius tiga puluh satu tombak di sekitar ku tiba tiba lembab berembun yang bilamana dalam radius itu ada kuncup bunga maka akan segera bermekaran dan bilamana ada bebunga yang layu akan seketika gugur dan menjadi kuncup baru yang aduhai berseri
Atau mungkin kau juga ternyata justru menunggu di rindu mu yang semakin bagai kompas tak terarah dan menjadikan kau resah, gundah, gelisah dan akhirnya pasrah melangkah menemu dunia yang patah dan pecah
Kekasih..
Rinduku tak layu!
"Selamat datang"
Kudus,
9 Agustus 2010
Benarkah hari ini kau akan datang, kekasih?
Atau mungkin kau sengaja membuat aku menunggu di rindu yang semakin mewabah dan menjadikan udara dalam radius tiga puluh satu tombak di sekitar ku tiba tiba lembab berembun yang bilamana dalam radius itu ada kuncup bunga maka akan segera bermekaran dan bilamana ada bebunga yang layu akan seketika gugur dan menjadi kuncup baru yang aduhai berseri
Atau mungkin kau juga ternyata justru menunggu di rindu mu yang semakin bagai kompas tak terarah dan menjadikan kau resah, gundah, gelisah dan akhirnya pasrah melangkah menemu dunia yang patah dan pecah
Kekasih..
Rinduku tak layu!
"Selamat datang"
Kudus,
9 Agustus 2010
Tak ada kata berhenti di sini
Tak ada kata berhenti di siniEngkau tangis yang mengiris angin
Dalam malam malam berselimut dingin
Di aroma aroma beribu ragu
Di candu kupu kupu pemburu madu
Pada kembang yang selalu mekar
Dia tahu kumbang tak pernah ingkar
Pada matahari yang menyerupa hari terik
Dia serbuksari yang mencinta hati sang putik
Karena tak ada kata berhenti
Disini: tak mati!
Purwodadi,
13 Agustus 2010
Matahari dan Bulan
Matahari dan Bulan
Sebagai Matahari
: Aku selalu membuahi fajar pagi
Sebagai Matahari
: Aku seluas pandang ketika siang gersang
Sebagai Matahari
: Aku jingga juwita ketika senja merona
Sebagai Matahari
: Aku waktu saat kau bertemu ragu
Sebagai Matahari
: Aku energi cinta yang tak mendusta
Karena sesunguhnya Matahari mencintai Bulan
: Simpanlah cahayaku!
Purwodadi, 28 Juli 2010
Sebagai Matahari
: Aku selalu membuahi fajar pagi
Sebagai Matahari
: Aku seluas pandang ketika siang gersang
Sebagai Matahari
: Aku jingga juwita ketika senja merona
Sebagai Matahari
: Aku waktu saat kau bertemu ragu
Sebagai Matahari
: Aku energi cinta yang tak mendusta
Karena sesunguhnya Matahari mencintai Bulan
: Simpanlah cahayaku!
Purwodadi, 28 Juli 2010
Kangen
Kangen
Kotaku terasa asing
Di malam yang sebenarnya bising
Karena hujan? Atau angin tak lagi berdesing
Dari kangen yang telah mendarah daging
Di rahim air mata lahirkan bening
Bagai pohon cinta berdaun tak kuning
Jangan, kering!
Ning
Rembang,
15 Agustus 2010
Kotaku terasa asing
Di malam yang sebenarnya bising
Karena hujan? Atau angin tak lagi berdesing
Dari kangen yang telah mendarah daging
Di rahim air mata lahirkan bening
Bagai pohon cinta berdaun tak kuning
Jangan, kering!
Ning
Rembang,
15 Agustus 2010
Embun
Embun
Senyum embun memupuk pucuk daun
Ilalang gelisah di fajar yang melamun
Mentari tak tampak batang hidung
Padahal burung nuri telah berdendang
Dan mendung mengepal ke utara
Bagai deret tentara menuju medan laga
Bersenjata apa saja
Bertameng cuma kulit dada
Yang telah beratus musim duka
Tak bersandang kecuali usangnya, gersangnya, kutang
Seperti cerita masa kecil
Di ninabobokan ibu dan si kancil
Dan setelahnya aku selalu lelap dan tidur
Mencoba mimpi mimpi, ku kail
Ku dapat hanya gigil dan krikil yang cuil
Senyum embun tak pernah hilang
Walau hujan tak terbendung
Karena..
Aku pulang!
Purwodadi - Rembang,
14 Agustus 2010
Senyum embun memupuk pucuk daun
Ilalang gelisah di fajar yang melamun
Mentari tak tampak batang hidung
Padahal burung nuri telah berdendang
Dan mendung mengepal ke utara
Bagai deret tentara menuju medan laga
Bersenjata apa saja
Bertameng cuma kulit dada
Yang telah beratus musim duka
Tak bersandang kecuali usangnya, gersangnya, kutang
Seperti cerita masa kecil
Di ninabobokan ibu dan si kancil
Dan setelahnya aku selalu lelap dan tidur
Mencoba mimpi mimpi, ku kail
Ku dapat hanya gigil dan krikil yang cuil
Senyum embun tak pernah hilang
Walau hujan tak terbendung
Karena..
Aku pulang!
Purwodadi - Rembang,
14 Agustus 2010
Bukan
Bukan
Bukan terhadap malam aku cemburu
Ruang dan waktu juga tak
Bukan terhadap awan dan bintang beribu
Langit dan gugus tata surya aku tak
Bukan ketika dimana kelam
Mengelar altar geletar ribuan kumbang hitam
Yang memangsa ketiak melati
Padahal telah lama ranumnya pucat dan pasi
Bukan terhadap jiwa
Menenun rerimbun bunga bunga
Kau tanam dalam benjana mata
Bukan ketika titik didih
Menemu perih, pedih, letih, pun sedih
Tetapi
Ini
Serpihan
rindu menahun
Sanggup kau minum! Bukan?
Purwodadi, 28 Juli 2010
Bukan terhadap malam aku cemburu
Ruang dan waktu juga tak
Bukan terhadap awan dan bintang beribu
Langit dan gugus tata surya aku tak
Bukan ketika dimana kelam
Mengelar altar geletar ribuan kumbang hitam
Yang memangsa ketiak melati
Padahal telah lama ranumnya pucat dan pasi
Bukan terhadap jiwa
Menenun rerimbun bunga bunga
Kau tanam dalam benjana mata
Bukan ketika titik didih
Menemu perih, pedih, letih, pun sedih
Tetapi
Ini
Serpihan
rindu menahun
Sanggup kau minum! Bukan?
Purwodadi, 28 Juli 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)





