Thursday, 2 September 2010

Ibu

Ibu

Nak ambilkan air mata
Tadi jatuh dikaki meja
Ya. Didekat jendela

Nak bawa kemari
Hangat dan matangkan lagi
Ya. Terseduh ribuan matahari

Nak telah didih
Kapan tertagih

Purwodadi,
17 Juli 2010

Datang

Datang

Benarkah hari ini kau akan datang, kekasih?

Atau mungkin kau sengaja membuat aku menunggu di rindu yang semakin mewabah dan menjadikan udara dalam radius tiga puluh satu tombak di sekitar ku tiba tiba lembab berembun yang bilamana dalam radius itu ada kuncup bunga maka akan segera bermekaran dan bilamana ada bebunga yang layu akan seketika gugur dan menjadi kuncup baru yang aduhai berseri

Atau mungkin kau juga ternyata justru menunggu di rindu mu yang semakin bagai kompas tak terarah dan menjadikan kau resah, gundah, gelisah dan akhirnya pasrah melangkah menemu dunia yang patah dan pecah

Kekasih..
Rinduku tak layu!

"Selamat datang"


Kudus,
9 Agustus 2010

Tak ada kata berhenti di sini

Tak ada kata berhenti di sini

Engkau tangis yang mengiris angin

Dalam malam malam berselimut dingin

Di aroma aroma beribu ragu

Di candu kupu kupu pemburu madu

Pada kembang yang selalu mekar

Dia tahu kumbang tak pernah ingkar

Pada matahari yang menyerupa hari terik

Dia serbuksari yang mencinta hati sang putik

Karena tak ada kata berhenti

Disini: tak mati!

Purwodadi,
13 Agustus 2010

Matahari dan Bulan

Matahari dan Bulan

Sebagai Matahari
: Aku selalu membuahi fajar pagi

Sebagai Matahari
: Aku seluas pandang ketika siang gersang

Sebagai Matahari
: Aku jingga juwita ketika senja merona

Sebagai Matahari
: Aku waktu saat kau bertemu ragu

Sebagai Matahari
: Aku energi cinta yang tak mendusta


Karena sesunguhnya Matahari mencintai Bulan





: Simpanlah cahayaku!




Purwodadi, 28 Juli 2010

Kangen

Kangen

Kotaku terasa asing
Di malam yang sebenarnya bising
Karena hujan? Atau angin tak lagi berdesing
Dari kangen yang telah mendarah daging
Di rahim air mata lahirkan bening
Bagai pohon cinta berdaun tak kuning


Jangan, kering!


Ning



Rembang,
15 Agustus 2010

Embun

Embun

Senyum embun memupuk pucuk daun
Ilalang gelisah di fajar yang melamun
Mentari tak tampak batang hidung
Padahal burung nuri telah berdendang

Dan mendung mengepal ke utara
Bagai deret tentara menuju medan laga
Bersenjata apa saja
Bertameng cuma kulit dada
Yang telah beratus musim duka
Tak bersandang kecuali usangnya, gersangnya, kutang

Seperti cerita masa kecil
Di ninabobokan ibu dan si kancil
Dan setelahnya aku selalu lelap dan tidur
Mencoba mimpi mimpi, ku kail
Ku dapat hanya gigil dan krikil yang cuil

Senyum embun tak pernah hilang
Walau hujan tak terbendung


Karena..
Aku pulang!


Purwodadi - Rembang,
14 Agustus 2010

Bukan

Bukan

Bukan terhadap malam aku cemburu
Ruang dan waktu juga tak
Bukan terhadap awan dan bintang beribu
Langit dan gugus tata surya aku tak

Bukan ketika dimana kelam
Mengelar altar geletar ribuan kumbang hitam
Yang memangsa ketiak melati
Padahal telah lama ranumnya pucat dan pasi

Bukan terhadap jiwa
Menenun rerimbun bunga bunga
Kau tanam dalam benjana mata

Bukan ketika titik didih
Menemu perih, pedih, letih, pun sedih

Tetapi
Ini

Serpihan
rindu menahun
Sanggup kau minum! Bukan?


Purwodadi, 28 Juli 2010